Pemuda Persis Cianjur

Advertise

 
Tuesday, June 14, 2016

Kedudukan Hadis “Minta Maaf Sebelum Ramadhan”

0 comments
Menjelang tibanya bulan Ramadhan, di kalangan sebagian kaum muslimin terdapat keyakinan dan praktik untuk bermaafan sebelum melaksanakan shaum di bulan itu. Keyakinan dan praktik ini, menurut pengamatan kami, tidak terlepas dari peranan sebuah hadis yang sering kali disampaikan oleh sebagian khatib dan ustadz, baik dalam acara pengajian, buku, maupun media elektronik. Setelah kami analisa, ternyata redaksi dan maksudnya telah menyimpang dari maksud dan rujukan aslinya.

Berikut redaksi hadis yang keliru dan telah banyak beredar:
"Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada suatu shalat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakanAamiin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamiin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamiin.

Tetapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamiin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jumat, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: "ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah aamiin-kan doa ku ini," jawab Rasullullah.

Doa Malaikat Zibril itu adalah sbb:
"Ya Allah tolong abaikan shaum umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
  • Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
  • Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri;
  • Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Maka Rasulullah pun mengatakan Aamiin sebanyak 3 kali."

Sementara teks asli hadis itu adalah sebagai berikut:
عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ، قَالَ : صَعِدَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ آمِينَ آمِينَ ، فَلَمَّا نَزَلَ قِيلَ لَهُ ، فَقَالَ : أَتَانِي جِبْرِيلُ ، فَقَالَ : رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ أَوْ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ أَوْ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، قُلْتُ : آمِينَ ، وَرَجُلٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ.
Dari ‘Ammar bin Yasir, ia berkata, “Nabi saw. naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Aamiin, aamiin, amiin". Maka ketika beliau turun dari mimbar, ditanya oleh para sahabat (Kenapa engkau berkata: Aamiin, aamiin, amiin?) maka Nabi saw. bersabda, "Telah datang malaikat Jibril kepadaku, lalu ia berkata: 'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah, maka Allah menjauhkannya. Katakanlah Aamiin!', maka aku berkata 'Aamiin'. Kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga ataw maka Allah menjauhkannya. Katakanlah Aamiin!' maka kukatakan, 'Aamiin". Kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu maka Allah menjauhkannya. Katakanlah ‘Aamiin!' maka kukatakan, 'Aamiin.' (H.R. Al-Bazzar, Musnad Al-Bazzar, IV: 240, No. 1405)

Hadis itu diriwayatkan pula dengan redaksi yang berbeda oleh Al-Bazzar dari Anas (Musnad Al-Bazzar, IV: 49, No. 3168); Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas (Al-Mu’jam Al-Kabir, XI: 82, No. 11.115); Al-Baihaqi dari Jabir (Syu’ab Al-Iman, III: 309, No. 3622); Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi dari Ka’ab bin ‘Ujrah (Al-Mu’jam Al-Kabir, XIX: 144, No. 315; Syu’ab Al-Iman, II: 215, No. 1572)

Kedudukan Hadis

Kata Syekh Al-Albani:
ضعيف جداً.
“Sangat dhaif”
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dari Ishaq bin Abdullah bin Kaisan, dari ayahnya, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas…

Menurut saya, “Dan sanad ini sangat dhaif, padanya terdapat dua sebab kedaifan:
Pertama, rawi Abdullah bin Kaisan. Dia telah dinilai dhaif oleh para ulama dan tidak ada yang menyatakan tsiqah (kredibel) selain Ibnu Hiban, namun Ibnu Hiban pun menyatakan bahwa ia yukhti’u (keliru). Karena itu Ibnu Hajar berkata dalam kitab Taqrib At-Tahdzib, “Shaduq yukhti’u katsiran (dia jujur namun banyak salah)”

Kedua, rawi Ishaq putra Abdullah bin Kaisan. Dia sangat dha’if, dan tidak ada seorang pun ulama yang menilainya tsiqah, bahkan Al-Bukhari mengatakan, “Dia Munkar Al-Hadits.”

Meski riwayat Ath-Thabrani ini dhaif, namun matan hadis itu shahih karena diriwayatkan melalui jalur periwayatan lain versi Ibnu Hiban, Al-Hakim, dan lain-lain dari Ka’ab bin ‘Ujrah. (Lihat, Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Mawdhu’ah, XIV: 346-348)

Setelah memperhatikan teks asli hadis di atas, kita dapat mengetahui bahwa hadis di atas tidak ada hubungan dengan bermaafan sebelum shaum Ramadhan.Dengan demikian bermaafan sebelum shaum Ramadhan tidak sesuai dengan ketentuan syariat karena tidak memiliki pijakan dalil.

Oleh Ust. Amin Saefullah Muchtar
Read more...
Friday, June 10, 2016

Menjerat Setan Saat Ramadhan

0 comments
Setiap kali Ramadhan tiba, segenap kaum muslim di seluruh dunia senantiasa disambangi “kado gembira” dari Nabi saw., bahwa pada bulan agung ini pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Lebih menggembirakan lagi, karena pada bulan ini pula dikabarkan para setan dibelenggu. Penghayatan saya terhadap “kado gembira” itu sempat terhenti tatkala muncul interupsi dari salah seorang jamaah pengajian: “Jika setan itu dibelenggu pada bulan Ramadhan, mengapa pada bulan itu tetap saja terjadi kejahatan dan kemaksiatan?” “Bahkan, bisa jadi lebih meningkat,” jawab saya refleks.

Terkesan dengan interupsi sang jamaah, pikiran saya seperti menerawang kembali rekaman peristiwa pada Ramadhan tahun lalu. Betapa tidak, tren kejahatan selama bulan Ramadhan 1436 H./2015 M. cenderung naik. Berdasarkan Crime Index atau Indeks Kejahatan selama bulan Juni 2015, dua kategori kejahatan yang mendominasi adalah aksi premanisme dan kejahatan jalanan. Belum lagi kejahatan terselubung “pemilik kerah putih” atau “kelas elit”, baik dalam strata sosial ekonomi maupun birokrasi, yang dampaknya jauh lebih besar ketimbang jenis kejahatan “kelas alit”.

Pada tahun ini, tren kejahatan selama bulan puasa hingga lebaran diprediksi akan terus meningkat pula. Meningkatnya angka kriminalitas tersebut konon dikarenakan adanya desakan dari para pelaku kejahatan terhadap kebutuhan Lebaran. Pihak Kepolisian pun mengimbau agar masyarakat selalu mewaspadai modus-modus kejahatan yang kerap terjadi selama puasa hingga lebaran.

Beberapa modus kejahatan yang diprediksi akan kembali menggejala, seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, meliputi:

  • Perampokan nasabah bank. Nasabah bank umumnya jadi incaran karena biasanya ada pembagian THR jelang lebaran.
  • Perampokan minimarket. Sasaran para pelaku biasanya minimarket yang buka 24 jam. Para pelaku melakukan aksinya menjelang tengah malam hingga dini hari.
  • Perampokan toko emas. Selain minimarket dan nasabah bank, para pelaku kejahatan juga menyasar perniagaan. Toko emas kerap menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan.
  • Pembiusan pemudik. Modusnya pelaku mengajak korban ngobrol, tanya alamat rumah asalnya. Nanti mereka pura-pura satu alamat, kemudian diberi minuman yang sudah dicampur obat bius.
  • Pencurian di rumah kosong. Pencurian di rumah kosong menjadi salah satu kejahatan yang trennya akan mengalami peningkatan. Terutama menjelang lebaran. Pelaku melakukan aksinya di rumah yang ditinggal warga untuk mudik.

Mencermati beragam modus yang terjadi di bulan Ramadhan itu, saya teringkat kembali pertanyaan jamaah yang saya ceritakan di awal, dan membuat batin saya berdialog sendiri, “Apakah ada yang keliru dalam “kado gembira” Nabi itu? Tentu saja Nabi saw. tidak keliru karena dibimbing wahyu. Jangan-jangan kita yang keliru menafsirkan? Bisa jadi demikian, bahkan kita keliru menghayati “kado gembira” yang disampaikan beliau.

Hayati “Terbelenggu” Secara Islami

Istilah “setan terbelenggu” seharusnya dipahami secara tuntas dan lugas, tidak diartikan dengan mentah-mentah. Makna setan terbelenggu saat bulan Ramadhan tidak dapat ditafsirkan sebagai keterpasungan setan dalam sebuah rantai atau apapun bentuknya, hingga “non aktif” menggoda manusia atau “pensiun sementara” selama Ramadhan tiba.

Sejumlah ulama telah mengingatkan bahwa konsep setan terbelenggu hanya berlaku bagi orang yang sedang shaum. Pastinya, mereka yang shaum dengan benar, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Ruang godaan setan lebih sempit karena banyaknya peluang-peluang kebaikan yang sedang digapai para hamba Allah, yang serius beribadah pada bulan agung ini. Dan ruang yang memperkikis atau mempersempit itu antara lain ibadah shaum. Maka “dibelenggu setan” adalah ungkapan sebagai kiasan dari keadaan manusia selalu beribadah dengan serius serta menahan diri dari nafsu yang berujung pada tertutupnya pintu neraka dan setan tak mampu menggoda dirinya. Telusuri jejak penafsiran lebih lengkap dalam edisi khusus sigabah di sini PENGHAYATAN MAKNA: “SETAN-SETAN DIBELENGGU”

Ulama lain menekankan pemaknaan bahwa, di bulan Ramadhan memang setan dari kalangan jin terbelenggu, tapi ada setan lain dalam wujud manusia yang hawa nafsunya tidak terbelenggu. Mereka itulah yang melakukan kedurhakaan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa ada perbedaan antara godaan setan dan rayuan nafsu. Setan menggoda dengan tujuan merugikan manusia, atau paling tidak menjadikannya tidak beruntung. Karena itu setan dapat mengubah rayuannya, dari suatu bentuk ke bentuk lain atau dari satu fase ke fase berikutnya, jika gagal dalam rayuan pertama. Ini berbeda dengan nafsu yang hanya ingin memuaskan dirinya, sehingga jika menginginkan sesuatu, dia tidak akan mengubahnya dan terus mendesak hingga keinginan tercapai. Setan jenis ini tak kalah penting untuk diwaspadai sebagaimana diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya (QS. Al-An’am, 6:112).

Begitu pula Nabi saw. mengingatkan agar senantiasa waspada terhadap gangguan dan bahaya setan jenis manusia, bahkan Rasul pun menempatkan bahaya gangguan setan jenis manusia mendahului bahaya gangguan setan jenis jin. (Baca Nasehat Nabi kepada Abu Dzar, seperti diriwayatkan Imam Ahmad)

Kalau begitu, meski setan dari kalangan jin yang sangat jahat terbelenggu pada bulan Ramadhan, bukan berarti tidak akan terjadi keburukan dan kemaksiatan. Pasalnya, setan-setan kecil dan setan-setan dari kalangan manusia masih tetap berkeliaran tidak dibelenggu. Jiwanya kerapkali memerintahkan kepada kejahatan. Begitu pula teman-teman setianya dengan perilaku buruk, yang memang senang memicu fitnah, pertikaian, dan kemaksiatan. Semua ini tetap ada di tengah manusia, tetap aktif tanpa “pensiun sementara” selama Ramadhan.

Hal ini berarti, tren kejahatan selama bulan Ramadhan hingga lebaran itu tidak menganulir atau membatalkan “kado gembira” bahwa “setan dibelenggu”. Sebab dapat dipastikan, para perampok nasabah bank, minimarket, toko emas; pembius dan penipu pemudik, pencuri, juga penjahat “berkerah putih”, mereka tidak sedang beribadah saat menjalankan aksi kejahatannya, atau jangan-jangan begitulah bentuk “ibadah” mereka.

Jadi, hakikatnya konsep “setan terbelenggu” tidak berlaku bagi mereka pelaku kejahatan, karena mereka sedang “berselingkuh” dengan setan, atau bisa jadi mereka sendiri yang sedang menjadi setan. Karena itu, biarkanlah “setan jenis” ini dibelenggu secara serius oleh pihak berwenang melalui satuan tugas khusus (satgas) yang dibentuk dalam Operasi Pekat (penyakit masyarakat) dan Satuan Tugas Khusus Tindak Pidana Korupsi (Satgassus Tipikor), selama bulan Ramadhan dan bulan lainnya, agar Indonesia tidak menjadi “negeri setan”.

Sementara setan dari kalangan jin yang sangat jahat dapat kita belenggu dengan keseriusan ibadah kita kepada Allah, sehingga ruang godaannya terhadap diri kita kian dipersempit.

Oleh Amin Muchtar.
Read more...
Sunday, June 5, 2016

Meneladani Figur Pemuda Kahfi, Serta Para Sahabat

0 comments

“PETUAH” KETUA UMUM PP PERSIS AL-USTADZ ACENG ZAKARIA KEPADA PEMUDA PERSIS

Muktamar Pemuda Persis yang diadakan di Ciganitri selama tiga hari menyisakan berbagai suntikan semangat baru. Salah satunya dari Ketua Umum PP Persis, al-Ustadz Aceng Zakaria yang memberikan sambutan sekaligus membuka muktamar XII Pemuda Persis.

Dalam sambutannya, beliau menjabarkan sifat-sifat yang dimiliki oleh para pemuda Kahfi seperti yang terkandung dalam QS al-Kahfi ayat 10-19.

Pertama, para pemuda kahfi merupakan sosok yang memiliki prinsip dan keteguhan. Keteguhan terhadap petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada mereka, dan sanggup menanggung resiko apa pun demi prinsip yang mereka pegang.

Kedua, pemuda Kahfi memilki sifat lurus serta dewasa (rasyada) dalam hal keyakinan kepada Allah. Dengan sifat lurus dan dewasa inilah mereka rela meninggalkan segalanya dan mengasingkan diri di tempat yang tidak mereka kenal.

Ketiga, memiliki kekuatan keyakinan dan akidah (komitmen). Bekal kekuatan keyakinan dan akidah itulah yang menyebabkan mereka dicintai oleh Allah dan dilindungi oleh Allah.

Keempat, selektif dalam makan dan minum (azkaa tha’aaman). Pemuda Kahfi selalu menjaga agar yang masuk ke dalam tubuhnya hanyalah makanan yang suci. Suci berarti bersih baik sifat maupun zatnya. Menghindari makanan dan minuman yang haram merupakan syarat mutlak bagi sifat-sifat orang beriman.

Selain memaparkan sifat pemuda Kahfi, al-Ustadz Aceng juga memaparkan harapannya kedepan. Beliau mengharapkan agar pemuda Persis memiliki tiga sifat: keberanian, keilmuan, dan ta’asyi. Keberanian seperti sosok Ali bin Abi Thalib yang semenjak usia tujuh tahun menerima Islam tanpa “peduli” dengan izin dari ayahnya. Bagi Ali, saat Allah menciptakan Ali, tidak perlu izin kepada Abu Thalib yang merupakan ayah Ali. Lalu kenapa Saat Ali hendak menyembah Allah yang Esa harus meminta izin ayahnya? Sebuah pemikiran yang cerdas dan berani mengambil resiko.

Selain itu, Pemuda Persis haruslah memiliki Keilmuan, pakar dalam tafsir dan agama seperti ibnu Abbas yang semenjak 14 atau 15 tahun telah menjadi pakar tafsir. Hal ini selain berkat doa nabi, juga kesungguhan ibnu Abbas dalam memahami kebutuhan Nabi saat menyiapkan air untuk Nabi berwudhu. Selain paham akan ilmu, beliau juga pribadi yang mengamalkan ilmunya, terbukti semenjak usia enam tahun beliau telah meneladani rosul dalam hal melakukan salat malam.

Terakhir, Pemuda Persis juga mesti memiliki sifat ta’asyi. Sebuah sifat yang dimiliki oleh ibnu Umar dalam hal kecintaan dalam meneladani nabi. Tidak pernah ada satu tempat pun yang dilewati oleh ibnu Umar yang padanya rasul pernah salat atau beristirahat di sana, kecuali ibnu Umar akan beristirahat dan salat di sana.

Semoga apa yang disampaikan oleh al-Ustadz Aceng, sekaligus harapan beliau terhadap sosok Pemuda Persis yang ideal ke depan dapat terwujud. Aamiin
Read more...
Tuesday, May 31, 2016

Cabang Cianjur gelar SAFARI RAMADHAN

0 comments
Cianjur (1/6) Pimpinan Cabang Pemuda Persatuan Islam Cabang Cianjur in-Sya Allah akan menggelar SAFARI RAMADHAN pada tanggal 13 Juni – 02 Juli 2016 atau bertepatan dengan 08-27 Ramadhan 1437. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja bidang Jam’iyyah, Pendidikan, dan Dakwah PC Pemuda Persis Cianjur masa jihad 2015-2017 di bulan Ramadhan yang mengambil fokus berbagai kegiatan didalamnya, diantaranya Sanlat, Taraweh Keliling, Moderator Kuliah Shubuh, dan Tabligh ‘Am.
Read more...
Monday, May 30, 2016

Ahlan Wa Sahlan di blog resmi PD Pemuda Persis Cianjur

0 comments
Islam adalah Agama yang bermisikan dakwah. Seluruh misi Islam disebarkan melalui dakwah. Islam akan terus berkembang dikarenakan berdakwah menjadi senjata bagi para penyebar Islam (dai). Namun Islam akan punah bila misi dakwah tidak berjalan maksimal. Maka, sebagai Agama yang membawa rahmat kepada seluruh alam, Islam menganjurkan kepada umatnya untuk berdakwah.

Di era globalisasi saat ini, dakwah Islam akan sangat dipengaruhi oleh perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat setempat. Sehingga Islam akan berhadapan dengan persoalan umat yang sangat kompleks dalam berbagai bidang kehidupan baik ekonomi, keagamaan, pendidikan dan lainnya. Dengan demikian, Islam harus mencari media alternatif untuk memaksimalkan misi dakwah.  
Read more...
 
Pemuda Persis Cianjur © 2016 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Nineteenboy Design

Diberdayakan oleh: Bidang Humas PD Pemuda Persis Cianjur